Selasa, 14 Februari 2017

BENARKAH GUNUNG TOBA SUDAH AKTIF???

Medan, 14 Februari 2017
Deli Serdang kembali diguncang gempa dini hari ini. Gempa ketiga tersebut berkekuatan 5,2 SR.Berdasarkan informasi dari situs resmi BMKG, gempa di Deli Serdang ini terjadi pada pukul 03.39 WIB, Selasa (14/2/2017). Pusat gempa berada pada kedalaman 10 Km.Pusat gempa sendiri berada di 3.35 LU-98.50 BT atau 23 Km BaratDaya Deli Serdang. Belum diketahui apakah gempa lanjutan ini menyebabkan kerusakan atau korban.

Sebelumnya diberitakan, gempa pertama di Deli Serdang dengan kekuatan 4,7 SR terjadi pukul 00.11 WIB. Kemudian dilanjutkan gempa kedua pada pukul 00.17 WIB dengan kekuatan 4,2 SR.Titik gempa pertama berada di di 3.37 LU dan 98.51 BT atau di darat, 22 kilometer Barat Daya, Kabupaten Deli Serdang. Selain Deli Serdang, gempa juga dilaporkan terasa di Medan, Berastagi, Sibolangit, Tuntungan dan Binjai. (sumber _Detik News Selasa 14 Feb 2017)

Belakangan ini gempa kerap kali terjadi di kota medan, seperti kita ketahui bahwa sumber gempa selalu berasal dari titik yang sama atau hampir sama, sehingga dimasyarakat awam banyak bermunculan cerita bahwa gempa yang sering terjadi akibat dari meningkatnya aktifitas gunung toba. seperti yang di utarakan bapak Sembiring seorang pensiunan Guru ketika kami berbincang bincang tentang makin seringnya gempa yang terjadi di sumatra Utara ini.

seperti yang sering kita baca dibergai sumber di google, seperti WIKIPEDIA

Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.
Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.
Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog padaBadan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic InstituteNew York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi SumateraJawaKalimantanSulawesi dan Banda.
Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australiamisalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.
Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.
Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.
  • Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  • Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
  • Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano biasa rata-rata kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolcano dapat mencapai puluhan kilometer.
Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.
seperti yang disangkakan Bapak Sembiring tersebut sebenarnya Pemerintah telah mengetahui jika Raksasa Toba itu telah bangkit dari tidurnya, Namun demi ketertiban Nasional, pemerintah kerap menutupinya. masih dari sumber yang sama, beliau berkata jika memang betul Raksasa Toba itu telah bangun dari tidurnya mungkin itu akan menjadi bencana terbesar di Bumi Pertiwi ini bahkan menjadi Bencana terbesar di dunia.
Pertanyaan yang muncul dalam benak kita : Benarkah GUNUNG TOBA aktif Kembali? 
hanya pemerintah yang diwakili BMKG dan Tuhan yang tau.

(DARLING DJULIUS HUTABARAT) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar