Jumat, 10 Februari 2017

Kesaktian Leluhur yg sudah lebur Part III

Kesaktian leluhur jilid III
Medan, 8 february 2017
Konon, setiap pemuda Batak yg merantau itu harus memiliki kesaktian supaya di perantauan dia bisa bertahan baik berupa spritual, pengobatan maupun bela diri.
Berbeda dengan pemuda yg 1 ini, beliau sering di panggil AP di kampung halamanya. Bermodalkan niat yg tulus serta tekad yg kuat, beliau merantau ke sebuah daerah / kota. 
Ternyata di tempat perantauanya sedang terjadi munmen (mutah menceret). Karna di daerah itu tenaga medis masih belum ada semua pengobatan hanyabdi tangani orang pintar atau yg biasa di sebut datu. Namun sang datu tak dapat mengobati penyakit tersebut, maka muncullah ide dr penduduk setempat untuk membawanya ke tempat si pemuda td, karna mereka meyakini si pemuda itu memiliki kesaktian. Sesampainya di rumah kos si pemuda itu mereka mendesak pemuda itu untuk mengobati yg sakit tersebut. Namun dengan jujur si pemuda mengatakan dia tidak dapat mengobati. Namun masyarakat dsana tidak langsung percaya, mereka mendesak agar si pemuda bermurah hati dan mau mengobati mereka maka masyarakat dsana akan memberikan kepadanya hamoraon, hasangapon sertahagabeon (di jodohkan dengan anak perempuan raja setempat).
Si pemudavtak dapat berbuat apa apa, sehingga dia menyuruh keluarga yg sakit untuk mengumpulkan beberapa dedaunan dan biji bijian sebagai pulungan (karna si pemuda tersebut pernah munmen di kampung dan di obati oppungnya, pulungan itu sebenarnya adalah obat alami munmen). Setelah keluarga yg sakit membawa pulungan tersebut, si pemuda minta ijin untuk membacakan mantra. (Mantra biasanya di bacakan dengan komat kamit)
Mantra si pemuda sbb ; 'baba ni amam ma, baba ni inam, sai di paksa hamu au mangubati hape so datu au'
Setelah mengucapkan mantra tersebut, si pemuda menyuruh mereka merebus ramuan itu seperti yg oppungnya lakukan waktu mengobati dia.
3 hari kemudian, semua yg sakit sudah sembuh kembali. Maka masyarakat dsana memberikan apa yg telah di janjikan.
Sumber cerita : Op. Glori Hutabarat.
Ntah ini hanya sebuah dongeng sebelum tidur atau sebuah kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar